Senin, 17 Desember 2012

Dari 171.634 Bangku Sekarang Tinggal 150.000 Bangku SNMPTN 2013

JAKARTA, KOMPAS.com Sebanyak 150.000 lulusan SMA/SMK/MA yang ada di seluruh Indonesia berkesempatan untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri melalui sistem Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2013.

Ketua Umum Panitia Pelaksana SNMPTN 2013, Akhmaloka, mengatakan bahwa SNMPTN yang diikuti oleh 61 perguruan tinggi negeri seluruh Indonesia ini memiliki daya tampung sebesar 60 persen. Sementara sisanya akan diakomodasi melalui ujian tulis yang dilakukan secara bersama oleh perguruan tinggi negeri dan ujian mandiri.

"Daya tampungnya 150.000 dari keseluruhan, tapi itu bisa saja ditambah. Sisanya sekitar 30 persen itu dari seleksi bersama dan 10 hingga 20 persen dari ujian mandiri," kata Akhmaloka, saat Peluncuran SNMPTN 2013 di Gedung A Kemendikbud, Jakarta, Senin (10/12/2012).

Jika dibandingkan dengan data pada tahun lalu, daya tampung pada SNMPTN kali ini sedikit menurun. Pada tahun 2012, sekitar 171.634 orang berhasil lolos ujian ini baik melalui jalur undangan maupun ujian tulis. Namun, pria yang masih menjabat sebagai rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengatakan bahwa masih ada kemungkinan penambahan kuota dari daya tampung yang ditentukan.

"Itu masih pagu utama. Jadi, mungkin saja ditambah sesuai dengan aturan yang ada," ujar Akhmaloka.

Untuk jadwal SNMPTN 2013 sendiri, panitia pelaksanaan akan mulai membuka pendaftaran pada awal Februari tahun depan. Namun, untuk pengisian Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) sudah dapat dilakukan mulai pekan depan oleh masing-masing sekolah.

"Jadi, sekolah wajib mengisi PDSS ini. Untuk lebih lanjut, kami akan sosialisasi nanti ke sekolah-sekolah yang ada di daerah kami masing-masing," tandasnya.
Editor :
Caroline Damanik
sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2012/12/11/11462024/SNMPTN.2013.Siap.Saring.150.000.Lulusan.SMA

Minggu, 16 Desember 2012

Anak Alumni 2011 dan 2012 Masih Bisa Ikut SNMPTN 2013


JAKARTA, KOMPAS.com — Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2013 tak lagi menjadi nama untuk ujian seleksi masuk perguruan tinggi negeri secara tertulis. Namun, pemerintah tetap akan menyelenggarakan ujian tulis melalui tahapan lain yang diberi nama Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

SNMPTN hanya akan mengakomodasi kesempatan untuk lulusan tahun 2013. Ujian tertulis SBMPTN menjadi satu-satunya kesempatan kepada para lulusan SMA/SMK/MA pada tahun 2011 dan 2012 yang ingin masuk PTN.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan, ujian tulis tetap akan diselenggarakan dengan kuota minimal 30 persen dari keseluruhan. Pelaksanaan ujian tulis ini juga menyesuaikan dengan jadwal SNMPTN yang pendaftarannya baru dibuka pada Februari mendatang.

"Ujian tulisnya nanti sendiri dan kuotanya hanya sekitar 30 persen. Ini fungsinya juga untuk anak-anak yang lulus tahun lalu, tetapi belum berhasil masuk PTN, bisa coba lagi di ujian tulis," kata Nuh di Gedung A Kemdikbud, Jakarta, Rabu (12/12/2012).

Namun, untuk ujian tulis ini, calon peserta tetap akan dikenai biaya pendaftaran yang besarannya mencapai ratusan ribu bergantung pada jurusan yang dipilih saat ujian. Pelaksanaannya sendiri diperkirakan antara bulan Juni atau Juli 2013 serentak di seluruh Indonesia.

"Rencananya itu Juni atau Juli. Yang pasti setelah pengumuman SNMPTN keluar, akan dilanjutkan dengan ujian tulis ini," ujar Nuh.

Selain dua metode seleksi ini, masing-masing PTN juga diberi hak untuk menyelenggarakan ujian mandiri dengan daya tampung hanya 10 persen dari keseluruhan. Namun, umumnya tidak semua PTN akan mengadakan ujian mandiri, terutama jika dengan dua seleksi sebelumnya jumlah kuota sudah terpenuhi. Salah satu PTN ternama yang sudah pasti tidak akan menggelar ujian mandiri adalah Institut Teknologi Bandung (ITB).
 

Selasa, 11 Desember 2012

Ini Pola dan Syarat Mengikuti SNMPTN 2013


JAKARTA, KOMPAS.com — Rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggunakan hasil ujian nasional (UN) sebagai salah satu instrumen persyaratan untuk masuk jenjang pendidikan tinggi akan segera diwujudkan dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2013 mendatang. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan bahwa SNMPTN 2013 nanti hanya akan didasarkan pada nilai rapor, prestasi lain, serta hasil UN. Namun, kali ini, sekolah dengan akreditasi apa pun bebas mendaftarkan siswanya tanpa ada pembatasan kuota.

"Jadi, murni dari hasil UN dan nilai rapor serta prestasi lain siswa tersebut untuk SNMPTN 2013 nanti. Kuotanya disediakan 60 persen untuk seluruh Indonesia," kata Nuh di Gedung A Kemdikbud, Jakarta, Selasa (11/12/2012).

Adapun syarat peserta SNMPTN 2013 mendatang adalah siswa SMA/SMK/MA yang mengikuti UN tahun ajaran 2013/2014 dan memiliki prestasi akademik di sekolah pada tiap semester. Siswa harus mengantongi rekomendasi dari kepala sekolah dan harus memiliki Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) serta terdaftar pada Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS).

"Untuk PDSS ini, kepala sekolah yang akan mengisi. Nanti NISN dan password siswa akan dibagikan oleh sekolah untuk melakukan verifikasi," ujar Nuh.

Pengisian PDSS akan dimulai pekan depan, yaitu tanggal 17 Desember-8 Februari mendatang. Selanjutnya, peserta dapat memulai proses pendaftaran dengan memasukkan NISN dan password yang diterima dari sekolah. Jika telah selesai mendaftar, peserta dapat mencetak kartu bukti pendaftaran sebagai tanda bukti peserta SNMPTN 2013.

Untuk pilihan PTN, tiap peserta dapat memilih paling banyak dua opsi PTN yang diminati. Jika memilih satu PTN saja, maka peserta bebas memilih PTN mana saja. Namun jika memilih dua PTN, maka salah satu PTN harus berada di provinsi yang sama dengan sekolah asal atau provinsi terdekat.

Sementara itu, untuk program studi, peserta dapat memilih paling banyak dua program studi yang diminati pada masing-masing PTN. Nantinya, pelamar akan diseleksi berdasarkan pilihan pertamanya dan apabila tidak terpilih, dilanjutkan pada pilihan keduanya. Jika tertarik untuk mengikuti SNMPTN 2013, anak didik dapat langsung memperoleh informasi lengkap melalui laman resmi SNMPTN ini.

Pendaftarannya sendiri dibuka pada 1 Februari-8 Maret dan dilanjutkan dengan proses seleksi pada 9 Maret-27 Mei. Hasil seleksi akan diumumkan pada 28 Mei 2013 nanti.
Editor :
Caroline Damanik
sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2012/12/12/10073043/Ini.Syarat.untuk.Ikuti.SNMPTN.2013 

Senin, 10 Desember 2012

Wah, Yuk kita Lihat Kisi-Kisi UN 2013


JAKARTA, KOMPAS.com — Di tengah polemik rencana pelaksanaannya tahun depan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  melalui Badan Standar Nasional Pendidikan  atau BSNP akhirnya merilis kisi-kisi soal Ujian Nasional 2013. Perkiraan soal untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah itu mulai disosialisasikan di laman resmi BSNP sejak hari Selasa (20/11/2012).

Dalam laman tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mencantumkan tiga tautan, yaitu tautan surat keputusan (SK) tentang kisi-kisi soal ujian nasional (UN), tautan berisi kisi-kisi soal UN untuk jenjang sekolah dasar, serta satu tautan berisi kisi-kisi soal UN untuk jenjang sekolah menengah pertama dan atas.

SK menyebutkan bahwa khusus kisi-kisi UN ini digunakan sebagai acuan dalam penyusunan soal UN dan memiliki masa berlaku selama tiga tahun.

Sosialisasi kisi-kisi soal UN ini sesuai dengan janji Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Kemdikbud Hari Setiadi, pekan lalu. Sebelumnya, rencana sosialisasi kisi-kisi memang sempat diundur dari bulan Oktober ke bulan November.

Kepada Kompas.com, pekan lalu, Hari mengatakan, para guru dapat segera memanfaatkan kisi-kisi ini sebagai acuan untuk mengajarkan materi yang sesuai kepada siswanya. Selain melalui situs resmi BSNP dan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemdikbud, kisi-kisi akan disosialisasikan melalui dinas pendidikan di masing-masing daerah.

Materi yang dimuat dalam kisi-kisi dan akan diujikan dalam UN tahun depan pun tidak jauh berbeda dengan kisi-kisi soal UN 2012. Oleh karena itu, meski soal UN akan dibuat dalam 20 variasi, menurut Hari, guru dan siswa tak perlu khawatir.

Les Privat Itu Penting


KOMPAS.com - Mayoritas siswa SMA menambah kegiatannya dengan les atau kursus. Herannya, les yang umumnya mereka lakukan itu adalah les mata pelajaran di sekolah, bukan les bermusik, menari, berolahraga, atau menggambar misalnya.

Lho sudah seharian belajar di sekolah, buat apa les lagi? Itu anehnya. Hasil survei Litbang Kompas pada November lalu antara lain menunjukkan, 87,8 persen dari 770 responden menyatakan pelajar perlu ikut bimbingan belajar atau bimbel di luar sekolah. Bimbel diperlukan terutama untuk menambah pemahaman mereka pada materi pelajaran.

Tujuan itu sesuai dengan alasan Yohana Christina Vidianasita dan Hasyim Rizky Isfandari, yang antara lain menyebut les untuk mendalami materi pelajaran.

”Ada guru yang kalau menjelaskan agak sulit kami mengerti, mau bertanya malas. Ya aku pilih mencari les saja,” kata Yohana, siswi kelas XII SMA Tarakanita, Citra Raya, Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten.

Ia memilih tempat les di dekat sekolah. Usai sekolah ia les setiap hari, kecuali Minggu, untuk belajar Matematika, Fisika, Kimia dan Bahasa Inggris, selama dua jam. Yohana tak sendiri, ada temannya yang juga les di tempat itu dengan biaya Rp 500.000 per bulan.

”Suasana belajar di tempat les lebih enak, gurunya menerangkan mata pelajaran dengan jelas. Kalau aku belum mengerti bisa bertanya sampai benar-benar paham,” lanjut cewek yang mengambil jurusan IPA itu.

Menjelang ujian nasional, ada tambahan pelajaran di sekolah. Namun bagi sebagian siswa, tambahan pelajaran selama 1, 5 jam itu pun masih kurang. ”Kebanyakan hanya teori, membahas soalnya jarang,” katanya.

Sementara Hasyim yang merasa kurang menguasai materi pelajaran, memilih bimbel. ”Sekalian saja, gue pengin dapat banyak latihan soal berikut pembahasannya untuk persiapan tes masuk perguruan tinggi negeri,” ujar siswa kelas XII IPS SMAN 28 Jakarta itu. Untuk bimbel selama sekitar 11 bulan, ia membayar sekitar Rp 6 juta, atau Rp 545.000 per bulan.

Kualitas guru

Lebih dari separuh responden mengaku bimbel diperlukan karena materi pelajaran yang diberikan di sekolah tak cukup dimengerti. Pemahaman anak yang kurang terhadap mata pelajaran tertentu, dikhawatirkan membuat nilainya tak mencapai standar. Kurangnya pemahaman itu terjadi antara lain karena kurangnya waktu belajar atau guru kurang berkompeten.

Soal kemampuan guru, sebagian responden (47,9 persen) menyatakan cukup memadai, 20,3 persen responden menilai kemampuan guru biasa saja, dan 29,3 persen responden bilang kemampuan guru kurang memadai.

Dalam polling itu, responden mengeluhkan kualitas guru dan kurikulum. Mereka menyatakan dua hal itu sebagai problem pendidikan nasional.

Satu dari lima responden mengatakan, kualitas pendidik masih bermasalah baik di tingkat pendidikan maupun cara mengajar. Teknik mengajar guru yang didominasi metode ceramah, membuat siswa kurang terstimulasi untuk mengembangkan pengetahuannya.

Kualitas guru yang diragukan responden juga tercermin dari pendapat mereka tentang kemampuan bimbel membantu siswa lulus ujian nasional. Separuh dari responden yakin, keikutsertaan di bimbel akan membuat siswa mampu menjawab soal ujian nasional dengan mudah.

Kesimpulan dari pendapat itu adalah ketidakmampuan guru di sekolah dalam memberi materi yang mudah dimengerti siswa. Responden lebih percaya pada pengajar bimbel.

Keraguan mereka atas kemampuan sebagian guru itu diakui J Sumardianta, guru SMA Kolese de Britto, Yogyakarta. ”Banyak guru terperangkap pada materi pelajaran yang termuat dalam kurikulum. Materi pelajaran yang harus ia berikan kepada siswa banyak sekali,” tuturnya.

Situasi tersebut ditambah metode atau gaya mengajar guru yang menyamaratakan kemampuan semua siswa, mengakibatkan siswa bosan.

Menurut Sumardianta, guru harus mengubah cara mengajar. Guru harus kreatif, inovatif, dan inspiratif bagi siswa sehingga siswa termotivasi mempelajari ilmu yang diajarkan. Sebagai pengajar Sosiologi, ia tak memakai teks buku mata pelajaran dari penerbit.

”Saya membuat modul Sosiologi untuk kelas X menjadi 21 lembar. Itu pun untuk dua semester, yang penting teori esensial masuk di modul,” kata guru yang sering menulis artikel di media massa itu.

Ia memberi tugas siswa mencari data berkait Sosiologi yang dipelajari lewat berbagai sumber, misalnya dari novel. Salah satu novel yang wajib dibaca siswanya berjudul The City of Joy karya Dominique Lapierre.

Siswa dibagi dalam kelompok. Mereka mendiskusikan isi buku dan mempresentasikan hasilnya di depan kelas. Bahan itu juga diujikan untuk ulangan. ”Cara itu tak monoton dan membuat siswa ingin tahu, lalu paham esensi pelajaran saya,” katanya.

Mengenai fenomena siswa ikut bimbel, Sumardianta berpendapat bisa dipahami. Meski menurut dia, bimbel tak harus diikuti sampai setahun. ”Siswa kami juga ada yang ikut bimbel. Umumnya mereka lakukan itu untuk tes masuk perguruan tinggi negeri.”

Teman sebaya

 Untuk mengatasi siswa yang kurang memahami mata pelajaran di sekolah, SMA Kolese de Britto menerapkan tutorial dengan teman sebaya. Siswa yang pintar dalam mata pelajaran terkait membantu teman yang kurang paham. Tutorial diadakan setelah pembelajaran guru selesai.

”Program tutorial teman sebaya sudah menjadi tradisi di sini. Mereka yang punya kelebihan, wajib membantu teman yang perlu bantuan dalam memahami pelajaran,” kata Sumardianta. Tutorial tak harus dilakukan di kelas, tetapi bisa di kantin atau gazebo sekolah. (PALUPI PANCA ASTUTI/Litbang Kompas/ SOELASTRI SOEKIRNO)
 
Sumber :
Kompas Cetak

Problem Krusial Jalur Undangan SNMPTN

 
JAKARTA - Jika jadi diterapkan, maka tahun depan tidak akan ada lagi Ujian Tulis Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Sebagai gantinya, seluruh siswa SMA punya kans yang sama untuk masuk PTN melalui Jalur Undangan.

Ide ini gencar dilontarkan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Djoko Santoso. Jika jadi diberlakukan, maka Jalur Undangan tidak lagi eksklusif, sebagai sistem penerimaan mahasiswa berprestasi. Pasalnya, semua siswa SMA bisa mengompetisikan nilai rapor mereka dalam seleksi Jalur Undangan. 

Menurut Rektor Universitas Lampung (Unila) Sugeng P Harianto, gagasan tersebut belum final mengingat belum adanya peraturan menteri terkait penghapusan Ujian Tulis SNMPTN tahun depan. Sugeng bertutur, Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri (MRPTN) menilai, ada beberapa persoalan yang perlu diperhatikan jika Jalur Undangan diterapkan secara penuh.

"Pertama, nilai rapor setiap sekolah tidak disamakan karena setiap sekolah memiliki bobot berbeda-beda. Nilai tujuh di satu sekolah berbeda bobotnya dengan nilai tujuh di sekolah lain," kata Sugeng, seperti dinukil dari laman Unila, Selasa (31/7/2012).

Sugeng juga mengingatkan, penghapusan ujian tulis SNMPTN akan berdampak pada nasib lulusan SMA yang tidak lulus SNMPTN baik jalur Ujian Tulis maupun Jalur undangan pada tahun-tahun sebelumnya. Dia mengilustrasikan, mekanisme SNMPTN Jalur Undangan yang dikelola pihak sekolah secara otomatis akan menutup peluang para siswa yang tidak lulus SNMPTN Ujian Tulis tahun sebelumnya. Padahal, jumlah kelompok ini setiap tahun juga terus bertambah. 

Persoalan lainnya adalah, kemampuan setiap PTN dalam memetakan sekolah juga tidak sama. Sugeng mengambil contoh, Institut Pertanian Bogor (IPB) memiliki pemetaan sekolah, lengkap dengan pola kualitas sekolah. Dengan begitu, mereka dapat mengonversi nilai riil siswa berdasarkan prestasi atau nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) alumni sekolah tertentu di IPB.

"Peta Unila masih terbatas Lampung, Sumatera Utara, Selatan, dan sebagian di Jawa saja," imbuhnya.

Beberapa poin tersebut menjadi dasar pemikiran MRPTN untuk mengusulkan agar Ujian Tulis SNMPTN tetap ada dalam sistem penerimaan mahasiswa baru. Sugeng bertutur, komposisinya menjadi 30 persen Ujian Tulis,  30 persen Jalur Undangan, dan 40 persen Ujian Mandiri. Pola ini, kata Sugeng, dapat mengakomodasi para peserta yang tidak lulus Jalur Undangan.  Sementara itu, usulan Dirjen Dikti adalah 60 persen mahasiswa baru akan diseleksi melalui Jalur Undangan, dan 40 persennya direkrut melalui Ujian Mandiri.

"Ini masih sebatas usul, berbeda dengan Dirjen Dikti merupakan hal wajar. Keputusan sepenuhnya ada di tangan Mendikbud," ujar Sugeng.(rfa)
sumber : http://kampus.okezone.com/read/2012/07/31/373/671259/problem-krusial-jalur-undangan-snmptn 

SNMPTN 2013 akan Dihapuskan Lalu Gimana Nasib Anak Alumni yang Bercita-cita Tinggi


Jakarta, Kompas - Pola seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri atau SNMPTN mulai tahun 2013 akan berubah. Selama ini 60 persen kapasitas kursi yang tersedia di PTN diisi melalui jalur undangan dan jalur ujian tulis.

”Mulai 2013, minimal 60 persen dari kapasitas yang tersedia di PTN akan diisi melalui jalur undangan saja. Tidak ada ujian tulis,” kata Djoko Santoso, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, di Jakarta, Jumat (30/3).

Adapun 40 persen sisanya menjadi hak setiap PTN untuk melakukan seleksi mahasiswa baru atau yang selama ini dikenal sebagai jalur mandiri.

Pada SNMPTN jalur undangan, kata Djoko, peserta dinilai dari nilai rapor di kelas I-III dan nilai ujian nasional (UN). ”Jadi, terjadi integrasi UN sebagai penilaian masuk PTN. Ini sudah disepakati bersama Majelis Rektor PTN,” ujar Djoko.

Kuota peserta jalur undangan untuk setiap sekolah berbeda-beda sesuai akreditasi sekolah. Peserta pun harus direkomendasikan sekolah.

Selain itu, biaya pendaftaran SNMPTN 2013 jalur undangan juga akan digratiskan. ”Pemerintah menanggung biaya pendaftaran jalur undangan, yang memang untuk siswa berprestasi,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh.

Akses kuliah

Mendikbud mengatakan, meskipun melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi itu pilihan tiap individu, negara tetap mengembangkan kebijakan untuk menjamin akses kuliah bagi semua anak bangsa.

”Sebagai bukti bahwa akses kuliah terbuka bagi semua anak, biaya pendaftaran SNMPTN mulai 2013 gratis,” kata Nuh.

Selain menggratiskan biaya pendaftaran, kata Nuh, sudah disiapkan juga sejumlah beasiswa dan bantuan biaya pendidikan agar tidak ada kendala bagi mahasiswa menyelesaikan pendidikannya. ”Intinya, jangan sampai ada mahasiswa yang mampu secara akademis terkendala masalah finansial,” kata Nuh.

Menurut dia, kapasitas perguruan tinggi negeri memang masih terbatas. Meski demikian, menambah daya tampung dan membuka PTN baru terus dilakukan secara selektif.

Tahun 2011 tercatat 773.976 peserta SNMPTN yang memperebutkan 165.715 kursi di 60 PTN. Peserta yang ikut jalur SNMPTN undangan 232.948 orang dan di jalur tulis 540.928 orang.

Anggota Komisi X DPR, Dedi S Gumilar, mengatakan, Komisi X DPR mendukung supaya PTN semakin mudah dijangkau semua lapisan masyarakat. Menggratiskan biaya pendaftaran merupakan kesempatan bagi semua anak bangsa untuk masuk PTN tanpa terkendala biaya pendaftaran.

(ELN)
Editor :
http://edukasi.kompas.com/read/2012/03/31/02225496/Pola.SNMPTN.2013.Berubah.

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes